Teori Ketergantungan (Di balik kemiskinan negara-negara Dunia Ketiga)

Posted: Februari 8, 2011 in Uncategorized

Teori ketergantungan — sebagai antitesis teori modernisasi — menekankan pada aspek keterbelakangan sebagai produk dari pola hubungan ketergantungan. Kedua kubu tersebut mendominasi ‘proyek besar’ pembangunan hingga akhir tahun 1980-an, ketika studi pembangunan mencapai ‘jalan buntu’. Kedua kubu teoritis tersebut dianggap gagal. Di satu sisi, realitas yang ada di negara-negara dunia ketiga sebagai obyek pembangunan tetap ditandai oleh berbagai indikator keterbelakangan, di sisi lain muncul fenomena negara-negara industri baru sebagai kisah sukses.

Kebuntuan dalam studi pembangunan ini mendorong perkembangan kritik terhadap teori-teori pembangunan yang dominan. Kritik terhadap teori-teori pembangunan ini bukan hanya menekankan pada kritik terhadap strategi-strategi pembangunan yang dominan, tetapi juga terhadap studi pembangunan dan bahkan konsep pembangunan itu sendiri. Dalam artian yang terakhir, teori pembangunan telah bergeser dari teori tentang kebijakan ke arah wacana tentang pembangunan (Apter, 1998).

Awal mula Teori Ketergantungan (Dependency Theory) dikembangkan pada akhir tahun 1950-an oleh Raul Presibich (Direktur Economic Commission for Latin America, ECLA). Dalam hal ini Raul Presbich dan rekannya bimbang terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang tumbuh pesat, namun tidak serta merta memberikan perkembangan yang sama kepada pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin. Bahkan dalam kajiannya mereka mendapati aktivitas ekonomi di negara-negara yang lebih kaya sering kali membawa kepada masalah-masalah ekonomi di negara-negara miskin. Hal Ini oleh para teori neo-klasik tidak dapat diprediksi sebelumnya dan dianggap bertentangan, oleh karena teori neo-klasik mengandaikan pertumbuhan ekonomi akan memberi manfaat kepada semua negara walaupun manfaatnya tidak selalui dibagi secara sama rata.

Kajian Prebisch mengenai fenomena ketergantungan ialah negara-negara miskin mengekspor komoditi ke negara-negara kaya yang kemudian menjadikan barang komiditi tersebut menjadi barang siap (manufactured) dan kemudian menjual kembali barang tersebut kepada negara-negara miskin. Nilai tambah yang ada oleh karena barang tersebut menjadi barang yang siap tentunya menimbulkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan barang yang belum siap. Oleh karena itulah, mengapa negara-negara miskin sentiasa tidak memperoleh pendapatan yang cukup dengan ekspor mereka karena terpaksa membayar lebih besar untuk mengimpor barang yang lebih siap dari negara-negara maju.

Presbich kemudian mengeluarkan suatu solusi terhadap kenyataan yang ada, yaitu negara-negara miskin sepatutnya melakukan program dengan menggantikan atau mencari pengganti barang yang selama ini mereka impor sehingga mereka tidak perlu lagi membeli barang siap dari negara-negara kaya. Negara-negara miskin juga perlu menjual produk-produk utama mereka ke pasaran dunia, akan tetapi cadangan devisa (mata uang asing) yang mereka peroleh dari penjualan produk utama tersebut jangan digunakan untuk membeli barang manufaktur dari luar.

Namun demikian, paling tidak ada tiga hal pokok yang membuat kebijakan seperti tersebut di atas sulit untuk dilakukan yaitu:

1.Pasar domestik negara-negara miskin tidak cukup besar guna mendukung skala ekonomi yang digunakan negara-negara kaya untuk terus membuat harga yang lebih rendah.
2.Kemauan politik (political will) negara-negara miskin terhadap transformasi (perubahan) dari sekadar menjadi produser komodoti barang primer sesuatu yang mungkin atau diinginkan.
3.Sejauh mana negara-negara miskin sebenarnya memiliki kontrol terhadap produk utama mereka, khususnya bagi penjualan barang tersebut di luar negeri.

Pada tahap ini dikatakan bahwa teori ketergantungan dapat di lihat untuk menjelaskan penyebab mengapa negara-negara miskin terus menjadi miskin. Adapun pendekatan tradisional neo-klasik tidak pernah melihat isu kemiskinan ini, sebaliknya mengatakan negara-negara miskin terlalu lambat untuk mengubah perekonomian mereka dengan mempelajari teknik-teknik ekonomi modern yang dapat membuat kemiskinan mereka menjadi berkurang (terhapus). Sedangkan penganut faham teori Marxis melihat kemiskinan yang berlanjut ini sebagai eksploitasi dari kapitalis.

Lebih lanjut dari kedua pemikiran di atas, muncullah satu pemikiran baru yang dikenal dengan Teori Sistem Dunia (World System Theory). Pendekatan ini mencoba menjelaskan bahwa kemiskinan adalah konsekuensi langsung dari evolusi ekonomi politik internasional kedalam pembagian yang kaku soal buruh yang mana menguntungkan pihak yang kaya dan merugikan yang miskin.

Secara umum dapat dikatakan bahwa tidak ada teori tunggal untuk mempelajari teori ketergantungan, oleh karena perdebatan di antara teoritisi, seperti Raul Presbich (mewakili pembaharu Liberal), Andre Gunder Frank (mewakili Marxist), dan Immanuel Wallerstein (mewakili Sistem Dunia) sangatlah kuat dan menarik untuk dikaji lebih jauh.

Secara umum ketergantungan didefinisikan sebagai suatu penjelasan mengenai pembangunan ekonomi negara dari pengaruh luar -politik, ekonomi dan kebudayaan- terhadap kebijakan pembangunan nasional.(Osvaldo Sunkel, “National Development Policy and External Dependence in Latin America,” The Journal of Development Studies, Vol. 6, no. 1, October 1969, p. 23).

Sedangkan Theotonio Dos Santos menekankan pada dimensi sejarah untuk menjelaskan adanya hubungan ketergantungan, yaitu:

[Dependency is]…an historical condition which shapes a certain structure of the world economy such that it favors some countries to the detriment of others and limits the development possibilities of the subordinate economics…a situation in which the economy of a certain group of countries is conditioned by the development and expansion of another economy, to which their own is subjected. (Theotonio Dos Santos, “The Structure of Dependence,” in K.T. Fann and Donald C. Hodges, eds., Readings in U.S. Imperialism. Boston: Porter Sargent, 1971, p. 226)

Makna yang dapat ditangkap dari pernyataan Dos Santos ialah bahwa keterbelakangan/ketergantungan ekonomi Negara Dunia Ketiga bukan disebabkan oleh tidak terintegrasinya ke dalam tata ekonomi kapitalisme, tetapi monopoli modal asing, pembiayaan pembangunan dengan modal asing, serta penggunaan teknologi maju pada tingkat internasional dan nasional mampu mencapai posisi menguntungkan dalam interaksinya dengan negara maju, yang pada gilirannya menjadikan Negara Dunia Ketiga mereproduksi keterbelakangan, kesengsaraan, dan marginalisasi sosial di dalam batas kewilayahannya.

Dalam hal ini tanpa negara-negara kaya, negara-negara miskin dianggap tidak mampu untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Karenanya negara-negara kaya secara aktif terus melakukan dominasi terhadap negara miskin yang dilakukan di pelbagai sektor, seperti ekonomi, media, politik, perbankan dan keuangan, pendidikan, dan semua aspek pembangunan sumber manusia.

Walaupun tidak ada teori tunggal yang dapat menjelaskan teori ketergantungan, namun tedapat tiga ciri persamaan atas definisi yang disepakati oleh para ahli teori ketergantungan. Pertama, ketergantungan membentuk sistem internasional yang terdiri dari dua negara yang digambarkan sebagai dominan/tergantung, pusat/periferi atau metropolitan/satelit. Negara-negara dominan adalah negara maju yang mempunyai kemajuan industri dan tergabung dalam Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Sedangkan negara-negara tergantung adalah Amerika Latin, Asia dan Afrika yang memiliki pendapatan per kapita yang rendah serta bergantung sepenuhnya kepada ekspor satu jenis komoditi untuk memperoleh devisa (foreign exchange).

Kedua, memiliki asumsi yang sama bahwa adanya kekuatan (dorongan) dari luar merupakan satu-satunya aktivtas ekonomi yang penting di dalam negara-negara yang bergantung. Kekuatan luar ini termasuklah Perusahaan Multi National (MNC’s) MNC, pasar komoditi internasional, bantuan luar negeri, komunikasi dan berbagai bentuk lainnya yang oleh negara-negara maju digunakan untuk kepentingan ekonomi mereka di luar negeri.

Ketiga, pengertian ketergantungan menunjukkan bahwa hubungan antara negara yang mendominan dan yang bergantung adalah dinamis, karena interaksi antara dua negara bukan hanya untuk saling menguatkan, tetapi juga untuk meningkatkan pola/corak yang tidak merata dalam pembagian ekonomi.

Seperti dinyatakan di atas, bahwa teori ketergantungan pertama kali dikemukakan oleh Prebisch dan dikemukakan kembali oleh ahli teori Marxis, Andre Gunder Frank dan diperlunak oleh Immanuel Wallerstein melalui teori sistem dunia. Teori ketergantungan menjadi popular pada 1960-an dan 1970-an sebagai kritik terhadap ahli teori pembangunan popular yang dilihat gagal untuk menjelaskan isu kemiskinan yang semakin meningkat di sebagian besar dunia.

Konsep underdevelopment yang dikemukakan oleh Gunder Frank merujuk kepada satu situasi yang secara fundamental berbeda dari undevelopment. Undevelopment merujuk kepada keadaan yang mana sumber (di suantu negara) tidak digunakan. Sebagai contoh, penjajah Eropa melihat benua Amerika Utara sebagai kawasan yang tidak maju karena tanahnya tidak digunakan dalam skala yang konsisten dengan potensinya. Adapun underdevelopment merujuk kepada situasi yang mana sumber-sumber secara aktif digunakan, tetapi digunakan melalui cara yang hanya menguntungkan negara-negara dominan dan bukannya negara-negara miskin yang merupakan pemilik dari sumber-sumber tersebut. Oleh karena itu, negara-negara miskin bukan tertinggal bila dibandingkan negara-negara kaya dan mereka miskin bukan karena mengabaikan aspek transformasi ilmu pengetahuan, tetapi kemiskinan lebih dikarenakan dipaksa memasuki sistem ekonomi internasional.

Secara ringkas, teori ketergantungan mencoba untuk menjelaskan situasi negara-negara yang keter-kebelakangan (underdeveloped) dengan menganalisis pola-pola interaksi di berbagai negara dan dengan menjelaskan bahwa ketidak merataan di berbagai negara adalah bagian dari adanya interaksi tersebut.

Pada intinya apa yang dikemukakan oleh Andre Gunder Frank dengan teori ketergantungannya (1980) menegaskan bahwa underdevelopment adalah produk kapitalisme dengan mengkaitkan kapitalisme kepada sistem dunia yang saling berkaitan. Melalui monopoli dan eksploitasi bahwa “mewujudnya keterbelakangan” (development of underdevelopment) adalah proses yang sedang berjalan di Amerika Latin dan masih belum berubah sejak penaklukan Spanyol dan Portugis pada abad ke-16. Lebih lanjut Gunder Frank berargumen bahwa ekonomi kapitalis dunia telah menembus Amerika Latin dengan begitu mendalam sehingga tidak ada bagian benua tersebut yang tidak “terjajah”. Ia memberikan contoh sektor pertanian di Brazil yang telah berubah menjadi industri untuk ekspor.

Gunder Frank juga merumuskan apa yang dikenal dengan struktur model satelit-metroplis (a metropolis-satelitte model) untuk menjelaskan bagaimana mekanisme ketergantungan dan keterbelakangan Negara-negara Dunia Ketiga mewujud. Hubungan satelit-metropolis pertama kali lahir di masa kolonial, ketika penjajah membangun kota-kota di Negara Dunia Ketiga dengan maksud untuk memfasilitasi proses pengambilan surplus ekonomi untuk negara Barat.

Hubungan metropolis-satelit tidak hanya pada tingkat hubungan internasional saja, tetapi juga berlaku untuk memahami hubungan regional dan lokal di dalam Negara Dunia Ketiga. Keseluruhan rangkaian hubungan metropolis-satelit ini dibangun semata hanya untuk melakukan pengambilan surplus ekonomi (bahan mentah, tambang, dagangan, laba, dsbnya) dari kota di pedesaan Dunia Ketiga ke ibukota daerah yang lebih besar, ke kota propinsi, dan selanjutnya ibukota nasional, dan yang terakhir ke kota-kota di negara Barat. Oleh karena itulah bagi Gunder Frank proses pengambilan surplus ekonomi secara nasional dan global serta terarah inilah yang menyebabkan keterbelakangan di Negara Dunia Ketiga.

Tidak hanya itu, Gunder Frank juga melihat rantaian hubungan metropolis-satelit ini telah terbentuk sejak abad ke-16 dan kalaupun ada perubahan hanya dari segi bentuk eksploitasi dan penguasaan terhadap negara satelit. Olehnya hal ini dinamakan sebagai satu prinsip kesinambungan di dalam perubahan atau “continuity in change”. Namun demikian, pada teori Gunder Frank ini ada tiga komponen utama yang harus diperhatikan, yaitu modal asing, pemerintah lokal di negara-negara satelit, dan kaum borjuis. Berdasarkan tiga komponen utama ini, ciri-ciri dari perkembangan kapitalisme satelit adalah; a) kehidupan ekonomi yang tergantung, b) terjadinya kerjasama antara modal asing dan kelas-kelas yang berkuasa di negara-negara satelit, yaitu pejabat pemerintah, tuan tanah dan pedagang, dan c) ketimpangan antara yang kaya dan miskin.

Dengan demikian pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara-negara satelit hanya akan menguntungkan kepentingan modal asing dan kepentingan pribadi dari kaum borjuasi lokal. Keuntungan ini tidak akan menetes ke bawah, seperti yang diperkirakan oleh teori trickle down effect (teori penetesan ke bawah). Pada akhirnya Gunder Frank menuju pada suatu kesimpulan bahwa keterbelakangan hanya bisa diatasi melalui revolusi, yakni revolusi yang melahirkan sistem sosialis, tanpa harus melalui pentahapan revolusi (revolusi borjuis dulu yang akan melahirkan masyarakat kapitalis, lalu melakukan revolusi sosialis).

[dikutip dari berbagai sumber]

About these ads
Komentar
  1. feniendah mengatakan:

    sumbernya dari buku mana saja (judul buku dan pengarang)? halaman berapa?

  2. Erza Saito Bletd mengatakan:

    weleh2, mantep mas bro :D
    tapi kalo bisa sekalian di buatin ke Ms Power Point eaaa :v :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s