Menjemput Hidayah di Philadelphia

Posted: Februari 4, 2009 in Cerita

Berawal dari frustasi karena putus cinta, aku terjerumus ke dalam lingkaran kejahatan di negeri Paman Sam. Tak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa aku bisa menjadi bagian dari mereka. Dalam pergulatan batin ini, aku mencoba meniti jalan hidayah-Mu.

Aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota santri. Keluargaku bukan tergolong mampu, tapi bisa menyekolahkan aku dan kedua adikku. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Usia 4 tahun aku sudah masuk SD–karena ikut-ikutan teman–sehingga menjadi anak yang paling kecil di kelas. Tapi aku di sekolah selalu mendapat ranking pertama sampai SMA. Selain di sekolah, aku juga rajin mengaji di masjid dan di pondok pesantren.

Selepas SMA aku kuliah di Fakultas Sastra Inggris sebuah universitas di Jember. Hidup jauh dari orang tua dengan kiriman uang pas-pasan, mau tidak mau harus bisa aku jalani. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hanya bertahan setahun kuliah, aku harus berhenti karena orang tuaku tidak sanggup lagi membiayai kuliahku. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti lalu bekerja di Surabaya, sebagai pegawai pabrik elektronika yang cukup besar di sana. Tapi kemudian aku memutuskan untuk pindah kerja karena tidak cocok dengan lingkunganku, aku pindah ke Bali menjadi pegawai di sebuah biro wisata, berbekal kemampuan bahasa Inggris yang lumayan bagus.

Sebagaimana remaja lainnya, aku waktu itu juga mempunyai kawan wanita dari kampungku juga. Ia teman dekatku, mungkin bisa disebut pacar. Suatu saat ketika aku pulang dari Bali,? aku menemui kenyataan pahit. Teman dekatku memutuskan hubungan karena dijodohkan orang tuanya dengan seorang laki-laki yang lebih kaya dariku dan keluargaku. Aku sangat terpukul. Rasanya sudah tidak ada keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Hari-hari aku lalui hanya duduk merenungi nasibku yang rasanya selalu tidak beruntung. Akhirnya Ibuku menyuruh aku untuk ikut rombongan calon tenaga kerja ke Amerika. Aku berangkat dengan niat untuk menghilangkan kecewa dan sakit hati. Apalagi ketika itu, usiaku baru sekitar 18 tahun.

Godaan Demi Godaan

Aku tinggal di Boston bersama tetangga yang dititipi amanah oleh ibuku ketika berangkat. Jadi masih ada yang mengawasiku. Itu sebabnya, aku masih bisa menjalankan sholat dan puasa. Hingga setahun aku masih merasa ada keluarga di tempat jauh ini. Kemudian orang yang menjadi pengawasku ini pindah ke kota lain, karena ingin mendapat pekerjaan yang lebih bagus. Aku ditinggalkan dengan perasaan sedih, seolah aku kehilangan pegangan.

Teman-temanku pun berganti, bukan tetangga-tetangga kampungku lagi, tapi penduduk asli kota ini, dan beberapa orang dari Itali, Meksiko, Afrika, dan Jerman. Dunia malam pun kujamah. Hampir tiap malam aku diajak ke tempat-tempat hiburan yang hingar bingar dengan suara musik hip hop, rap dan rock. Diiringi pula dengan para penari wanita yang mengundang syahwat tiap lelaki. Akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai meninggalkan sholat. Berpindah ke dunia yang bertolak belakang dengan semua ajaran agamaku.

Casino pun tidak lepas dari jangkauanku. Akan tetapi, hingga saat ini, tak sekalipun aku berani bermain judi. Aku hanya sekadar menemani teman-temanku. Tidak tahu mengapa, biarpun aku akrab dengan dunia malam seperti itu, masih ada ketakukan dalam hatiku untuk masuk ke dunia judi dan wanita. Tiap kali aku melihat para penari pembangkit nafsu itu, selalu terbayang wajah ibu dan adik perempuanku. Selalu ada ketakutan yang muncul tiap kali para streaper dan wanita-wanita malam itu mendekatiku.

Perjalananku di Amerika ini akhirnya membawaku ke dunia yang sebelumnya hanya kulihat di film-film di tv; dunia mafia! Orang-orang dari Italia membawaku menjadi anggotanya, bahkan menjadi pengedar dan pemakai narkoba. Aku tidak lagi bekerja sebagai tenaga kasar di pabrik, karena dalam kelompok yang aku ikuti, hampir semua kebutuhanku terpenuhi. Dalam semalam aku bisa mendapatkan uang US$ 500!

Uang hasil pekerjaan hitam itu tidak aku kirimkan kepada keluargaku, karena aku menyadari bahwa itu uang haram. Aku tidak sampai hati memberikannya kepada mereka. Biar aku yang menjalaninya sendiri. Sehingga hampir dua tahun aku tidak pernah mengirimkan uang kepada mereka. Telpon hanya sesekali saja, sekadar menanyakan kabar keluarga. Ortuku masih menganggap aku seperti anaknya yang dulu manja, masih “anak mama”, masih rajin sholat dan mengaji. Aku pun tidak sanggup memberitahukan keadaanku yang sebenarnya kepada mereka. Mereka pun tidak menuntut aku untuk mengirimkan uang karena memang dulu tujuan aku diberangkatkan ke Amerika adalah untuk mengobati luka hatiku pada nasib.

Meniti Jalan Hidayah

Suatu ketika, setelah 3 tahun lebih aku berada di Amerika, dalam sebuah peristiwa aku berkenalan dengan seorang gadis, di tanah air lewat telepon. Dia teman satu kos dari teman SMA-ku. Entah mengapa, setiap kali aku menghadapi masalah, aku selalu ingin menelpon dan menceritakan semuanya kepadanya, padahal bertemu pun belum pernah.

Gadis itu selalu bisa memberikan kesejukan di hatiku dengan nasihat-nasihatnya. Bahkan pernah mengatakan aku bodoh karena sudah menyia-nyiakan hidupku hanya untuk sesuatu yang semu. Belum pernah sebelumnya ada orang yang berani mengatakan aku bodoh. Dia bisa memarahi aku. Dan aku tidak pernah marah karenanya. Pandanganku pada wanita ini berbeda sekali dengan ketika memandang yang lain. Hingga akhirnya, aku memberanikan diri untuk melamarnya lewat telepon. Tapi dia belum bisa menerimaku karena belum pernah melihatku dan aku tidak sesuai dengan kriteria calon suami yang dia harapkan. Aku cukup tahu diri untuk itu, karena dia adalah termasuk gadis yang alim, berjilbab dan mengaji. Sedangkan aku? Sungguh bertolak belakang.

Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku membutuhkan orang yang bisa? mengendalikan dan mengaturku. Aku minta tolong kepada teman-temanku satu apartemen untuk meyakinkan gadis itu bahwa aku sungguh-sungguh dan berniat untuk merubah diri. Ketika itu aku sedang dikejar-kejar oleh seorang gadis adik teman satu gang untuk dijadikan teman dekatnya. Biarpun kuakui gadis bule itu cantik sekali, tapi aku tidak tertarik. Aku lebih tertarik untuk mendekati gadis berjilbab yang belum pernah kulihat, hanya berdasar cerita temanku saja.

Akhirnya temanku bisa meyakinkan hati gadis tanah air itu untuk menerima aku, dengan alasan bahwa gadis itu ingin membawa aku kembali ke jalan yang benar. Dan itu berhasil, akhirnya aku putuskan untuk pindah ke Philadelphia untuk menghindari gang-ku dan sekaligus meninggalkan dunia hitam itu.

Aku sekarang belajar lagi untuk mengaji dan sholat lagi, menghadap Allah yang selama ini tidak pernah kusebut namanya. Perlahan aku melakukannya bukan lagi hanya untuk gadis itu, tapi demi hidupku sendiri, untuk dunia dan akhiratku. Aku bertobat ya Allah, terimalah tobatku…Ampunilah dosa-dosaku selama ini. Bimbing dan bantulah aku ya Allah, di tengah belantara yang kejam ini… Amin. [seperti yang dituturkan Surya kepada Nisa]

[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juni 2003]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s