Indonesia Sejahtera Bukan Impian!

Posted: Februari 11, 2009 in Uncategorized

flag
Aneh kalau kita melihat Indonesia, negeri yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar namun rakyatnya banyak yang melarat. Lebih dari separuh penduduknya tergolong miskin jika diukur dengan penghasilan satu dollar per hari. Standar ini pun sebenarnya tidak rasional. Jika masyarakat dengan pendapatan 1 dollar atau sekitar 10.000 per hari dikategorikan miskin, bagaimana dengan yang dua, tiga, atau empat dollar per hari? Dengan uang 20.000 rupiah saja, satu keluarga -apalagi jika terdiri dari empat sampai lima orang- tidak akan bisa makan paling tidak sekali sehari, apalagi untuk memenuhi kebutuhan lainnya? Artinya dengan standar seperti itu, setidaknya ada sekitar 80 hingga 90 persen penduduk negeri ini terkategori miskin.
Yang lebih aneh, BUMN seperti Pertamina tidak bisa mengelola kekayaan minyak di negeri sendiri secara maksimal. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena lebih berpihaknya pemerintah kepada pihak asing dan swasta. Contoh kasusnya adalah Blok Cepu. Bukannya Pertamina sebagai badan usaha dalam negeri yang dimenangkan –padahal pemerintah bisa melakukannya- ,tetapi malah Exxon Mobile yang dipercaya untuk mengelola ladang minyak tersebut. Dan sudah tentu, Exxon lah yang paling banyak mangambil untung. Pemerintah hanya mendapatkan sebagian kecil saja. Dan ironisnya dana tersebut tidak disalurkan kepada rakyat, malah seringkali dikorupsi. Begitupun kekayaan alam lainnya, hampir semuanya diprivatisasi. Dan akhirnya, rakyat hanya bisa gigit jari menyaksikan “drama memilukan” tersebut.
Indonesia pun memiliki utang luar negeri yang mencekik. Lewat IMF dan World Bank, bantuan dengan status utang terus mengalir dari negara-negara maju. Dampaknya pun bukan main, Indonesia menjadi negara jajahan secara tidak langsung. Sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah lebih berpihak kepada asing dan swasta, dari dulu hingga sekarang. Mulai dari UU yang membolehkan masuknya kembali IMF dan World Bank pada era Soekarno, penguasaan tambang di Papua oleh PT Freeport yang disahkan Pak Harto, UU Minyak dan gas (Migas) di era Megawati yang membolehkan perusahaan asing bersaing dengan badan usaha milik negara seperti Pertamina -dan sudah jelas asinglah yang akan menang- , kenaikan harga BBM, dan lain sebagainya. Parahnya utang itu harus dibayar oleh rakyat. Padahal rakyat tidak merasakan hasil dari pinjaman utang tadi.
Namun dari semua keanehan tadi, tentu masih ada harapan bagi bangsa ini. Potensi yang ada di negeri ini cukup (bahkan lebih dari cukup) untuk membangun bangsa yang mandiri dan sejahtera. Jika menginginkan rakyat hidup sejahtera, maka harus dimulai dari pemerintahan yang bersih. Kesalahan terletak pada pemimpin kita yang bermental koruptor, tidak amanah, dan tidak berakhlak mulia. Rekrutmen politik lebih melihat calon pemimpin dari kekayaan dan popularitas yang dimiliki, bukan dari loyalitas terhadap rakyat dan akhlaknya. Jika ia adalah pemimpin yang bertakwa, mana mungkin berani korupsi? melakukan skandal seks? Atau mengkhianati rakyat dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak pro-rakyat?
Mewujudkan negeri yang sejahtera memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Kekayaan negeri ini harus dinasionalisasi. Kita bisa mencontoh Venezuela, yang presidennya tidak mengizinkan adanya privatisasi. Dengan begitu, pengurasan terhadap kekayaan negara tidak terjadi. Indonesia pun memiliki putra-putri yang cerdas yang sekarang ada di dalam maupun luar negeri. Jika ini diberdayakan, maka potensi SDM Indonesia bisa membantu membangun negeri ini. Kemudian Indonesia harus menghentikan utang kepada IMF atau World Bank. Dalam Politik Ekonomi Internasional, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh sebuah negara untuk lepas dari jeratan utang luar negeri. Pertama, meminta surat penghapusan utang. Kedua, menganggapnya sebagai odious debt, yakni utang yang tidak perlu dibayar karena bukan rakyat yang menikmati utang tadi, tetapi dinikmati oleh pemimpinnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Argentina dan Bolivia.
Tetapi semua itu hanya khayalan jika sistem yang mengakar di negeri ini masih kapitalisme-sekulerisme, yang memisahkan aturan agama dari kehidupan dan lebih berpihak pada pemilik modal. Karena sistem inilah rakyat hidup menderita akibat liberalisasi ekonomi. Dan karena sistem ini pula tercipta kesenjangan yang luar biasa antara yang kaya dan miskin. Masyarakat pun hidup dalam sikap individualis, permissive, dan hedonis sehingga hilang rasa kepedulian di antara sesama.
Sebagai makhluk kita wajib tunduk dan taat terhadap aturan Pencipta, yakni Allah SWT. Setiap perbuatan harus mengacu pada aturanNya, bukan aturan yang diciptakan oleh akal manusia yang lemah dan terbatas sehingga sering menimbulkan perselisihan. Indonesia harus menerapkan syariat Islam sebagai sebuah ideologi secara kaffah (totalitas) dalam seluruh aspek kehidupan. Jika tidak, mustahil akan ada pemimpin yang amanah seperti Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. Mustahil terwujud kesejahteraan seperti di masa Umar bin Abdul Azis atau Umar bin al Khattab. Semuanya akan terwujud hanya dalam naungan negara Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Seluruh negeri-negeri Islam harus bersatu di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Saudi Arabia, Malaysia, Mesir, Palestina, Iran, Indonesia, dan negeri-negeri muslim lainnya. Dengan begitu, kekuatan kaum muslimin tidak akan terkalahkan, bahkan oleh Amerika sekalipun. Namun perlu diketahui, bukan kesombongan dan sifat imperialis yang dibawa sebagaimana Amerika, tetapi Khilafah didirikan untuk menyebarkan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dalam konsep ekonomi Islam, pemasukan negara tidak hanya dari pengelolaan SDA, tetapi ada juga infaq, sedekah, zakat, jizyah (pungutan dari nonmuslim yang tinggal dalam negara khilafah), fa’i, ghanimah, dan lain sebagainya yang tidak dimiliki oleh sistem ekonomi manapun. Dari segi militer, seluruh tentara dari negeri-negeri muslim akan dikerahkan. Pendidikan juga merupakan prioritas dalam negara khilafah, begitupun kesehatan. Dalam khilafah rakyat dari berbagai suku dan agama hidup rukun, sebagaimana Spanyol ketika masa kekhilafahan di mana umat Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan. Jadi tidak logis jika dikatakan di Indonesia tidak bisa diterapkan syariat Islam karena kemajemukannya. Toh kapitalisme yang jelas kebobrokannya bisa diterapkan di negeri ini. Toh kapitalisme tetap menjadi pegangan rakyat Amerika yang juga majemuk. Lalu mengapa Islam tidak bisa?
Sebagai generasi muda, kita punya peran untuk memperjuangkan kembalinya Islam dalam kehidupan. Untuk itu, kita harus belajar dan mengkaji bagaimana menyelesaikan masalah negeri ini secara khusus dan dunia secara umum. Kita punya tanggung jawab untuk menyampaikan opini Islam di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi kaum muslim, tetapi juga nonmuslim. Rasulullah SAW telah mencontohkan metode untuk menegakkan Khilafah. Dimulai dengan membina masyarakat lewat pembinaan intensif dan umum (lewat seminar, diskusi publik, dll) lewat sebuah partai politik ideologis yang memperjuangkan syariat Islam di luar parlemen (karena berjuang lewat parlemen dalam sistem rusak seperti sekarang hanya akan mewarnai perjuangan partai tadi sehingga tidak lagi murni untuk Islam dan kebangkitan umat). Lalu menginteraksikan ide-ide islam secara umum kepada masyarakat. Setelah umat sadar akan kewajiban menerapkan syariat Islam, maka umat sendiri meminta penerapan sistem Islam. Saat itulah, kemenangan Islam datang sesuai hadits yang diucapkan Rasulullah SAW ”….kemudian akan ada khilafah rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian” (H.R. Ahmad). So, Waktunya revolusi, kawan!

Komentar
  1. haadillah mengatakan:

    Melihat Indonesia semakin bobrok, tentu menginginkan sebuah jalan untuk merubahnya. Sebagian elit politik menganggap bahwa untuk meminimalisir semua itu dengan cara menganti rezimnya, tapi apakah dengan pergantian rezim, Indonesia lebih baik. Tentu fakta diatas telah membuktikan perubahan Indonesia! Perubahan yang justru semakin menyengsarakan rakyat, bukan mensejahterakan rakyat. Semakin buram wajah Indonesia karena penyelesaian persoalan masih membebek pada demokrasi dan cara pandang sekulerisme. Hanya dengan kembali kepada syariah dan khilafah Indonesia akan tersenyum. selamat berjuang saudaraku. Saya bagian diantaramu. Allahu Akbar!!!

  2. ayuds mengatakan:

    ehem….syukran ya ukhti atas supportnya….begitu lah Indonesia hari ini. Mari bergerak dan berjuang untuk tegaknya Islam menuju Indonesia yang lebih baik. Allahu AKbar!

  3. hugo mengatakan:

    tinggal kita pilih presiden seperti seorang Hugo Chavez

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s