Mewujudkan Kesejahteraan Melalui Sistem Ekonomi Islam

Posted: Februari 19, 2009 in Uncategorized

18
Krisis finansial global telah menimbulkan dampak yang begitu besar bagi perekonomian dunia. Hal ini dimulai dari ambruknya perekonomian AS yang mengadopsi sistem ekonomi kapitalis yang menyebabkan macetnya kredit perumahan di sana. Bahkan telah dikeluarkan dana ratusan juta dollar untuk menangani krisis tersebut. Pada akhirnya, intervensi negara pada sektor ekonomi (yang jelas “haram” bagi penganut liberalisme) juga dilakukan oleh pemerintah setempat.
Tentu saja ketika kita melihat makin banyak orang yang di PHK dan menganggur akibat krisis finansial, itu artinya makin bertambah pula jumlah orang miskin di dunia. Bahkan tidak jarang orang yang depresi karenanya dan akhirnya memilih bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban hidup yang besar, apalagi jika sudah berkeluarga. Sungguh ironis! Namun itulah faktanya. Dan hal tersebut wajar terjadi, di mana segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem rusak seperti kapitalisme tidak akan pernah menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah masalah.
Dalam sistem ekonomi kapitalis, pemilik modal adalah raja. Jadi tidak heran jika para pemodal atau pengusaha dalam sistem ini lebih diuntungkan. Dalam konteks negara, tentunya negara-negara besar seperti AS dan Uni Eropa (UE) lebih banyak mendapatkan keuntungan daripada negara-negara di dunia ketiga (khususnya negeri-negeri Islam). Kurang dari 10 persen kekayaan dunia dinikmati oleh sekitar 80 persen masyarakat biasa, sedangkan selebihnya yakni lebih dari 90 persen, dinikmati oleh orang-orang kaya di dunia. Dalam konteks hubungan internasional, globalisasi adalah salah satu cara untuk melanggengkan kekuasaan para kapitalis yang rakus itu. Di mana IMF,World Bank, dan WTO adalah sarananya. Ini pun tertera dalam Washington Consencus yang menjadi pedoman bagi AS dalam sistem perekonomiannya.
Sistem ekonomi kapitalis merupakan sistem yang bobrok dan sarat akan krisis. Selama diterapkannya sistem ini, sudah beberapa kali terjadi krisis. Hal ini disebabkan karena :
1. Akad yang dilakukan di dalamnya batil, seperti jual beli saham dan obligasi.
2. Standar mata uang yang digunakan adalah uang kertas.
3. Berkembangnya perekonomian karena adanya bunga (riba).
4. Berputarnya uang sebagian besar di sektor non riil.
Kebobrokan yang telah dibawa oleh sistem inilah yang kemudian membawa masalah baru bagi masyarakat, khususnya bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Hasilnya makin banyak pengangguran, tingkat depresi meningkat, banyak yang masuk rumah sakit jiwa, begitupun dengan tingkat kriminalitas yang makin tinggi. Karena itu, diperlukan suatu tatanan sistem yang telah nyata membawa kemaslahatan bagi umat manusia, yaitu yang berasal dari Sang Pencipta yang Maha Tahu kebutuhan makhlukNya, itulah sistem ekonomi Islam. Sistem ini telah terbukti membawa kesejahteraan bagi rakyat, karena kejelasan dalam pengelolaan serta distribusi kekayaannya.
Dalam sistem ekonomi Islam, tidak boleh ada unsur riba sebagaimana diharamkan dalam Al Qur’an. Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Q.S Al Baqarah :275). Karena itulah tidak akan ada krisis yang disebabkan karena membengkaknya bunga, misalnya dalam kredit perumahan atau barang lainnya. Kemudian sektor yang bergerak adalah sektor real, yaitu dari hasil jual beli barang dan jasa, bukan dari hasil penjualan saham atau obligasi. Seseorang mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya. Akad dalam jual beli saham itu batil, sebagaimana yang diterapkan dalam sistem ekonomi kapitalisme sekarang. Belum jelas kepemilikannya, saham itu sudah dijual kepada pihak lain. Dalam Islam, proses jual beli harus jelas pemilik barang, barang yang diperjualbelikan, pembeli, dan harus disertai akad jual beli.
Selain itu, standar mata uang yang digunakan adalah dinar dan dirham (emas dan perak). Pada perjanjian Bretton Woods Juli 1944, AS dan Eropa membuat kesepakatan untuk menghapuskan standar mata uang emas dan perak (yang diberlakukan sebelumnya oleh negara negara di dunia sesuai aturan negara Islam) yang digantikan dengan uang kertas (dollar AS). Kelebihannya sistem dinar dan dirham adalah tahan inflasi yang mencegah ketidakseimbangan ekonomi dunia. Nilai emas dan perak tidak akan berubah dari masa ke masa. Kalaupun ada, hanya sedikit.
Selain itu, pengelolaan kekayaan alam dalam Islam sudah jelas. Ada tiga kepemilikan yang telah ditentukan, yakni kepemilikan umum, negara, dan individu. Kepemilikan umum berasal dari pengelolaan SDA yang ada di dalam negeri. Rasulullah SAW bersabda:
“kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, yakni api (energi), air, dan padang gembalaan (tanah).” (H.R.Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa segala bentuk kekayaan alam, baik di dalam bumi, permukaan, maupun di laut adalah milik rakyat secara umum. Pengelolaannya dilakukan oleh negara dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk zatnya atau dalam bentuk pelayanan setelah dikurangi biaya produksi dan distribusi. Pengelolaannya diawasi secara ketat oleh negara, termasuk upaya korupsi dari para pejabatnya. Distribusinya pun demikian.
Adapun kepemilikan negara, yaitu yang tidak termasuk kepemilikan umum, seperti zakat, infaq, sedekah, jizyah (pungutan dari kaum nonmuslim -itupun yang mampu membayarnya- yang hidup dalam negara Islam), fa’i, ghanimah, dan lain-lain. Sumber-sumber pendapatan inilah yang tidak dimiliki sistem ekonomi kapitalis. Pengelolaannya terserah pada negara, apakah digunakan untuk membiayai pembangunan dalam negeri atau untuk membiayai rakyat yang tidak mampu guna menciptakan keseimbangan kekayaan di antara mereka (Q.S. Al Hasyr :7). Adapun kepemilikan individu yaitu yang tidak termasuk kepemilikan negara dan umum. Selama berasal dari kerja yang halal (sesuai hukum syara’) maka kekayaan yang dimiliki oleh individu tidak dibatasi. Tentunya dengan catatan, bahwa mereka punya kewajiban menyisihkan hartanya untuk orang yang lebih membutuhkan.
Konsep ini telah diterapkan oleh negara Islam (dan memang hanya dengan negaralah sistem ini bisa diberlakukan), yakni Daulah Khilafah Islamiyyah. Dalam masa kekhalifahan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azis, misalnya, kita akan mendapati fakta sejarah bahwa kemakmuran telah meluas di penjuru negeri dalam naungan Khilafah. Bahkan di Yaman, tidak ditemukan satupun orang yang cocok untuk menerima zakat. Sangat berbeda dengan fakta hari ini dalam naungan sistem kapitalisme, di mana kemiskinan ibarat wabah penyakit yang terus menjangkiti rakyat (muslim dan nonmuslim).
Karena itulah, hanya dengan menerapkan syari’ah Islam, rakyat (baik muslim maupun nonmuslim) akan hidup dalam kesejahteraan. Lalu apa lagi yang kita tunggu? Saatnya kita hijrah menuju sistem yang lebih baik, yakni sistem Islam. Sistem yang mampu menyelesaikan segala problematika ummat. Tentunya hanya dalam naungan satu institusi, yakni Daulah Khilafah Islamiyyah.

Komentar
  1. haadillah mengatakan:

    Emank sistem ekonomi kapitalisme harus ditumbangkan dan digantikan dengan sistem ekonomi Islam. Bukan hanya itu, seluruh lini kehidupan harus terbebas dari sistem kapitalisme sekuler. Hanya Syariah dan Khilafah yang mampu memimpin dunia.

  2. ayuds mengatakan:

    bener mbak…harus itu!Allahu Akbar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s