Peran Politik Perempuan Dalam Pandangan Islam

Posted: Februari 25, 2009 in Uncategorized

1_172543196m
Saat ini ide Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang diusung oleh kaum feminis mendapatkan peluang yang besar dalam lingkungan yang demokratis, termasuk di Indonesia. Perempuan dianggap memiliki potensi yang sama dengan laki-laki yang karenanya tidak mungkin bisa tereksplorasi hanya dengan tinggal di rumah dan mengurusi rumah tangga. Ketika perempuan hanya beraktivitas dalam ranah domestik (rumah tangga) maka hal tersebut dianggap membatasi kebebasan perempuan, apalagi jika harus selalu tunduk pada kemauan suami. Karenanya perempuan dipicu untuk berperan tidak hanya dalam lingkungan domestik tetapi juga di lingkungan publik. Maka saat ini tidak heran jika kita melihat banyak perempuan berlomba-lomba untuk bekerja sebagai pegawai negeri, pengusaha, caleg, bahkan presiden sekalipun.
Pandangan kaum feminis tersebut tidak terlepas dari ketidakadilan yang telah dialami oleh kaum perempuan di Barat sebelum abad ke-18. Mereka diperlakukan sebagai orang nomor dua, di mana dominasi kaum laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan (budaya patriarki) telah memarjinalkan posisi perempuan saat itu. Perempuan hanya ditempatkan di rumah, selebihnya adalah bagian laki-laki. Karenanya muncullah perjuangan untuk menuntut keadilan bagi kaum perempuan yang diawali oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet dengan mendirikan perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan di Middleburg, Belanda pada tahun 1785. Dengan munculnya liberalisme dan Revolusi Perancis pada abad ke-18, maka peran perempuan mulai diperhitungkan dalam bidang publik terutama pada tahun 60-an di mana perempuan pertama kali mendapatkan hak suara parlemen.
Pada kenyataannya perjuangan kaum feminis saat ini telah menciptakan permasalahan-permasalahan baru yang lebih kompleks. Aktivitas perempuan terutama kaum ibu yang lebih sering menghabiskan waktunya di sektor publik, telah mengalihkan perhatiannya terhadap tugas dan tanggung jawab di sektor domestik. Anak-anak yang seharusnya dididik oleh ibu sebagai pihak yang terdekat malah menyerahkan pengasuhan mereka kepada baby sitter. Akibatnya mereka harus mengambil resiko bahwa sang pengasuh akan mendidik anak-anak mereka sesuai pemahamannya. Jika baby sitter tersebut bukan orang yang bertanggung jawab, maka anak-anak akan menjadi korban dari didikan yang tidak benar.
Terkadang seorang ibu tidak mengurusi anak-anaknya dengan baik sehingga anak-anak tersebut kekurangan kasih sayang dari ibu mereka. Akibatnya mereka terjebak kepada pergaulan bebas dan narkotika. Apalagi jika kedua orang tua mereka bekerja, maka tidak ada waktu untuk mengurusi anak-anak lagi. Pergi pagi pulang malam, begitu seterusnya. Yang mereka pikirkan adalah yang penting kebutuhan finansial anak-anak mereka tercukupi, masalah kasih sayang dan pendidikan agama itu bisa diatur nanti. Hal inilah yang menjadikan sebuah keluarga diambang kehancuran, di mana kontrol terhadap rumah tangga berkurang.
Sebagai sebuah ideologi (mabda), Islam memiliki aturan yang jelas dan tegas. Seorang muslimah telah ditetapkan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah SWT. Dalam lingkungan domestik atau rumah tangga, perempuan yang telah menikah memiliki kewajiban sebagai ummu wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Di sini seorang ibu wajib menjalankan tugasnya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Seorang ibu adalah orang yang memberikan pemahaman agama kepada anak-anaknya sehingga terbentuklah kepribadian yang Islami pada diri mereka.Melalui cara itulah perlindungan awal terhadap anak, yakni ketakwaan individu dari lingkungan yang jauh dari suasana keimanan telah terbentuk. Dengan begitu, anak-anak dapat memahami mana hal yang boleh dan tidak boleh dilakukannya sesuai aturan Islam.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur rumah tangga, seorang ibu tidak boleh menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada siapapun. Jika itu dilakukan maka dikhawatirkan pemahaman yang diberikan oleh orang lain bukanlah pemahaman yang sesuai dengan Islam, tetapi pemahaman yang menyimpang. Karenanya seorang perempuan yang hendak menikah dituntut agar memiliki pemahaman yang baik tentang Islam untuk diajarkan kepada anak-anaknya kelak. Karena seorang ibu atau orang tua lah yang akan mempertanggungjawabkan pengurusan anak-anaknya di hadapan Allah SWT kelak di akhirat.
Di samping mengurus anak, seorang istri juga harus mengurus suaminya. Ia harus menuruti apa yang menjadi keinginan suaminya, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan hukum syara’. Begitupun sebaliknya, suami tersebut memiliki kewajiban untuk memuliakan istrinya dan memberikan hak-hak istrinya. Masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan.
“Bertakwalah kepada Allah tentang (urusan) wanita, karena sesungguhnya kalian (para suami) telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian mempunyai hak yang menjadi kewajiban mereka, yaitu mereka tidak boleh memasukkan ke rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Jika mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Mereka pun memiliki hak yang menjadi kewajiban kalian, yaitu nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf” (H.R. Malik, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibn Majah, dll)
Sesungguhnya Islam tidak mewajibkan perempuan untuk bekerja. Hukumnya mubah (boleh). Jika ia bekerja, hal itu dibolehkan dengan syarat bahwa ia harus tetap menjalankan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dengan baik. Hal ini bertentangan dengan apa yang diusung oleh kaum feminis di mana perempuan didorong untuk bekerja di luar rumah bahkan terjun dalam bidang politik. Dalam Islam seorang wanita haram hukumnya menempati posisi strategis yang berhubungan dengan pengambilan kebijakan. Rasulullah SAW pernah bersabda ketika beliau mendengar penduduk Persia mengangkat anak perempuan Kisra sebagai raja :
“Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan” (H.R. Bukhari)
Islam telah menetapkan pula aturan pemberian nafkah kepada perempuan sehingga ia tidak perlu lagi bekerja di luar rumah. Kewajiban memberi nafkah ada pada ayah ketika anak-anak perempuannya belum menikah. Tetapi jika sudah menikah, maka suaminya yang wajib menafkahi istrinya. Jika suaminya sudah meninggal atau tidak ada lagi keluarga yang mampu menafkahinya, maka kewajiban menafkahi perempuan tadi serta anak-anaknya dibebankan kepada negara. Karena itulah, wajib adanya sebuah negara yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat, tentunya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah (totalitas).
Dalam sektor publik, seorang muslimah memiliki kewajiban untuk beramar ma’ruf nahi mungkar (Q.S.Ali Imran :104;110). Di sinilah peran politik perempuan dalam pandangan Islam, di mana politik diartikan sebagai ri’ayah (kepengurusan) terhadap ummat,bukan dalam artian bekerja di bidang politik parlemen. Seorang muslimah wajib berdakwah di tengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan pemahaman Islam. Muslim dan muslimah saling bekerja sama dalam berdakwah, tentunya dalam koridor yang telah digariskan oleh aturan Islam. Tujuan dari dakwah ini tidak lain adalah untuk membangkitkan kembali pemahaman umat Islam tentang Islam yang benar. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya dakwah seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sehingga tegaklah sebuah daulah Islam.
Wallahu a’lam

Komentar
  1. baitul alim mengatakan:

    mendidik anak sangat perlu untuk hati-hati, jangan sampai salah dalam mendidik anak sehingga membuat anak menjadi orang yang pesimis, minder dan lain-lain.karena didikan ortu dapat membentuk kepribadian anak.

    —————————————————-
    Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

  2. ayuds mengatakan:

    Syukran atas masukannya…memang benar bahwa dalam mendidik anak harus hati2, apalagi sebagai muslim. Maka harus dibentuk kepribadian yang islami pada anak2….

  3. pakhanung mengatakan:

    silaturrahmi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s